You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan GIRIPURWO
Kalurahan GIRIPURWO

Kap. GIRIMULYO, Kab. KULON PROGO, Provinsi DI Yogyakarta

Sugeng Rawuh Wonten ing Website Kalurahan Giripurwo, Sugeng Amriksani, Mugi-mugi Tansah Manpangat Dhumateng Kita Sedaya. Bayarlah Pajak PBB Tepat Waktu, Orang Bijak Taat Pajak

Perwakilan FPRB Giripurwo Ikuti Pemaparan Hasil Penelitian Fakultas Teknik UGM

Administrator 14 Desember 2022 Dibaca 458 Kali
Perwakilan FPRB Giripurwo Ikuti Pemaparan Hasil Penelitian Fakultas Teknik UGM

Selasa, 13 Desember 2022, Perwakilan FPRB (Forum Pengurangan Resiko Bencana) Kalurahan Giripurwo,bersama dengan relawan yang ada wilayah Kapanewon Girimulyo, bertempat di Pawon Gunung Kiskendho, mengikuti pemaparan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknik UGM Yogyakarta tentang Prediksi Kejadian Longsor di Wilayah Kapanewon Girimulyo. Seperti diketahui, wilayah Kapanewon Girimulyo yang hampir seluruh wilayahnya berupa perbukitan, sehingga sangat rawan terjadi bencana tanah longsor. Dari laporan yang disampaikan, telah lebih dari 150 kejadian bencana tanah longsor sepanjang tahun 2022 di wilayah Kapanewon Girimulyo yang tersebar di 4 kalurahan yang ada. Tim Peneliti UGM yang dipimpin oleh Dr. Ahmat Rifa'i, melaksanakan penelitian selama 10 bulan, dan bekerja sama dengan KSB "Bhakti" Purwosari, dikarenakan wilayah Kalurahan Purwosari menjadi wilayah yang sering terjadi laporan bencana tanah longsor.

Disampaikan bahwa, salah satu faktor pemicu terjadinya tanah longsor adalah curah hujan yang cukup tinggi diwilayah Kapanewon Girimulyo. Sementara alat pengukur curah hujan, baru tersedia 2 buah yang dipasang oleh BPBD, dan itupun tidak bisa diakses oleh masyarakat. Sehingga UGM memberikan bantuan alat pengukur curah hujan yang sudah terpasang di 4 balai Kalurahan yang ada di Girimulyo. Dan dapat diakses melalui aplikasi yang dapat diunduh di Playstore. (ecowitt), sehingga hasil pengukuran dapat diakses secara umum oleh masyarakat. Ketika curah hujan lebih dari 40 mm/hr, maka menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih waspada. Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan potensi bencana, diharapkan masyarakat peka terhadap situasi sekitar. Jika curah hujan tinggi, upayakan aliran air lancar sehingga tidak ada yang meresap ke dalam tanah. Juga melakukan penanaman kembali jika melakukan penebangan pohon, sehingga pohon sebagai "pakunya bumi" dapat menjaga kestabilan lereng bukit.(al@yyubi.red)

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image